Headline Thu, 19 May 2016

Miris: Kenapa Di Indonesia Makin Banyak Wanita Diperkosa dan Dibunuh Sadis

Miris: Kenapa Di Indonesia Makin Banyak Wanita Diperkosa dan Dibunuh Sadis
PassionMagz. – Pastinya Sahabat Passion masih ingat bukan dengan kasus miris yang terjadi pada Yuyun dan Eno (gadis cangkul)?. Ya mereka merupakan korban pemerkosaan dan dibunuh sadis yang dilakukan oleh beberapa orang pelaku.

Lalu, yang menjadi pertanyaannya mengapa di Indonesia semakin banyak saja kasus pemerkosaan dan pembunuhan sadis pada wanita?. Jika Sahabat Passion penasaran simak terus yah artikel ini sampai tuntas.

Sosiolog dari Universitas Indonesia Paulus Wirutomo mengatakan, kejahatan tersebut menunjukkan krisis pendidikan yang tengah melanda masyarakat. Sebab kebanyakan, kejadian pemerkosaan hingga berakhir dengan kematian di kawasan yang notabenenya memiliki tingkat pendidikan rendah.

"Menurut saya itu ya krisis di pendidikan kita, jadi misalnya orang-orang yang tidak terjangkau pendidikan yang memadai. Kalau isinya kosong makanya bisa terjadi seperti itu. Karena mahasiswa saja masih banyak yang macem-macem. Pendidikan kita masih banyak yang salah," katanya.

Dia mencontohkan pendidikan gender yang disampaikan ke khalayak umum. Menurutnya, masyarakat masih sering menyalahkan perempuan dalam kasus perkosaan. Entah apakah karena pakaian digunakan terlalu terbuka atau jalur pulang mereka rawan kejahatan.

Seharusnya semua orang, baik perempuan ataupun laki-laki memiliki penilaian yang sama. Bukan malah menyalahkan salah satu pihak, dalam hal ini perempuan, karena apa yang mereka kenakan ataupun lakukan.

"Misalnya gini, ada yang bilang perempuan yang diperkosa malah perempuannya yang disalahkan. Itu prinsip yang salah.

Karena perempuan mau jalan di mana aja berhak seperti orang lain bagaimana orang laki-laki berjalan. Jadi itu penjelasan enggak bener, jika memakai perempuan berpakaian seperti ini dan itu. Tidak ada hak laki-laki memperlakukan perempuan seperti itu (diperkosa)," jelasnya.

Selain itu, Paulus menyayangkan persepsi negatif masyarakat akan pendidikan seks di sekolah. Kebanyakan orang tua akan marah saat mengetahui anak mereka mendapatkan pendidikan tentang reproduksi. 

Padahal, tegas dia, di dunia yang sudah serba canggih ini, anak-anak bisa saja mengakses video porno tanpa pengawasan.

Adanya informasi secara langsung kepada anak-anak, tidak berbanding lurus dengan informasi tentang reproduksi dan seks. Alhasil mereka hanya menerima dari satu sisi, tanpa mengetahui bahaya dan bencana yang bisa terjadi jika melakukan tindakan tersebut.

"Tangan anak-anak ada handphone yang bisa melihat apa saja. Jadi sudah cukup ekspose (seks), tapi orang tua tidak rela pendidikan tentang seks. Bahwa reproduksi seperti apa itu enggak pernah diajarkan. Kalau diajarkan dianggap sebagai hal yang tabu. Tetapi anak-anak tahu lebih jauh dari itu dan tidak baik. Bangsa kita sudah salah, kalau kita tetap takut maka terjadi ketidakseimbangan antara yang benar dan tidak benar," ujarnya.

Menurutnya, masih banyak faktor lain juga mendukung tumbuhnya rasa ingin tahu dari anak-anak akan tindakan yang berujung pada pelecehan seksual. Faktor pengangguran dan kurangnya tempat yang baik untuk beraktivitas juga menjadi penyumbang potensi adanya tindakan tercela tersebut. 

Dan ini semakin diperparah karena belum adanya pendidikan yang mampu menjelaskan masa depan mereka akan seperti apa.

"Karena enggak ada pengembangan kreativitas jadi mereka bisa melihat pornografi dan tidak melakukan pendidikan seimbang. Kemudian pendidikan tidak memberikan bagaimana mereka akan menjadi seperti apa dari pendidikan itu," terangnya.

Paulus mengungkapkan, pemerintah juga harus bertindak tegas kepada pelaku pelecehan seksual, walaupun disaat bersamaan tengah melakukan perbaikan dari berbagai sektor. Karena tanpa adanya pemberian efek jera akan membuat bibit-bibit pelaku kekerasan ini akan kembali muncul.

"Kemudian harus ada hukum yang tegas. Hukum kita juga pincang. Kalau ada hal serius hukumannya ringan, kalau nyuri ayam malah berat. Hukum kita tidak mendidik," tutupnya.

Lalu, bagaimanakah menurut tanggapan Sahabat Passion?.

Miris: Kenapa Di Indonesia Makin Banyak Wanita Diperkosa dan Dibunuh Sadis
Rated 5/5 based on 687 reviews
More