Experential Marketing
Posted by By admin , at 10 : 01 AM Print
Apa yang membedakan secangkir kopi di kafe dan di rumah? Rasa kopinya? Tapi seandainya kita meminum kopi yang sama sekali pun, tetap saja berbeda kenikmatannya. Ada hal-hal yang tidak bisa kita temukan pada secangkir kopi di rumah. Itulah alasan mengapa kopi di kafe tetap saja laku meski pun dijual dengan harga yang tinggi.
Saat konsumen berhubungan dengan suatu produk, ada unsur penting yang terlibat di dalam proses interaksi ini, yaitu pengalaman konsumen. Sehingga lahirlah istilah experential marketing. Pemasaran sangat lekat dengan pengalaman konsumen yang terbentuk sewaktu bersentuhan dengan stimulan pemasaran. Pengalaman menikmati kopi di kafe dan di rumah adalah berbeda, dan pengalaman ini perlu diciptakan secara tepat bagi konsumen.
Prof. Bernd Schmitt, ahli pemasaran dan pengajar senior di columbia Business School, melihat proses konsumsi produk lebih sebagai upaya penciptaan pengalaman bagi konsumen. Dalam buku Experential Marketing.
Schmitt mengemukakan lima bentuk pengalaman yang bisa dihadirkan oleh pemasar bagi konsumennya yaitu Sense (pengalaman langsung), Feel (pengalaman pembentuk emosi), think (Pengalaman pemecahan masalah), act ( Pengalaman prilaku konsumen), relate (pengalaman yang mengaitkan konsumen dengan berbagai aspek di sekelilingnya).
Experential marketing digunakan karena fitur dan benefit dari produk inti tidak selalu bisa menjawab tuntutan konsumen. Pesatnya kemajuan teknologi, meluasnya jalur-jalur komunikasi, bergesernya kultur, berubahnya pola konsumsi, menjadi alasan mengapa pemasar harus berfikir out of the box.
Kepuasan konsumen tercapai melalui komponen yang membentuk pengalaman yang bersifat menyeluruh, bukan farsial. Jadi, sukses sebuah kafe tidak hanya ditentukan oleh rasa kopinya, melainkan juga kebersihan, layanan, musik, suasana tempat, kemudahan parkir, dan lain sebagainya.
Dengan kata lain, kita harus berhasil mengemas rasio dan emosi konsumen menjadi satu dalam produk yang ditawarkan. Kebutuhan konsumen yang harus dipenuhi juga termasuk kebutuhan akan pengalaman untuk dimanjakan, dihibur, dididik, dan bahkan diberi tantangan. (Sumber: Budi Handojo, praktisi pemasaran)
Related Posts
-
10 April at 16 : 33 PM 0
Ketakutan Dalam Pekerjaan
-
25 March at 22 : 52 PM 0
Menyiasati Rapat Kejutan
-
24 March at 22 : 47 PM 0
Menjadi Orang Yang Bahagia







